Suroan di Gunung Lawu Menjadi Tradisi Masyarakat Lereng Gunung Lawu

oleh

Gunung.id, Magetan – Gunung lawu merupakan salah satu gunung di Indonesia yang memiliki mistis kuat, pada malam tahun baru 1 Muharam atau disebut orang jawa malam suro gunung lawu akan ramai oleh para pendaki khususnya orang lokal dari Magetan dan Karanganyar. Banyak warga yang melakukan pendakian di malam 1 suro di gunung lawu untuk melakukan ritual atau basuh gaman.

Baca Juga: 5 Jalur Pendakian Gunung Merbabu, Jalur Favorit Kamu Yang Mana

Pendakian malam 1 muharam atau suroan memang sudah menjadi tradisi warga sekitar lawu dari zaman dahulu karena di gunung lawu terdapat sumber atau sendang untuk dijadikan cuci sabuk atau gaman (Jamasan) kalo orang Jawa bilang,  makanya tidak heran disaat malam 1 suro gunung lawu overload, jumlah pendaki bisa mencapai ribuan.

Dari sekian banyak pendaki tidak hanya untuk keperluan ritual saja namun ada juga pendaki dari luar Magetan/Karanganyar ingin melakukan pendakian dan untuk melihat secara langsung bagaimana kondisi lawu jika di malam satu suro.

Baca Juga: Jalur Pendakian Gunung Tambora

Menelisik kata suro bagaimana asal usulnya dimana kata ”Suro” berasal dari kata Asyuro, yaitu dari bahasa Arab ‘Asyara, artinya bilangan yang dihubungkan dengan tanggal 10 yang dalam kontek budaya Islam Jawa kata Asyara -Asyuro -Suro yang bermakna sepuluh dan ini digunakan untuk menggatikan nama bulan Muharram. Jika di luar jawa suroan erat dengan peringatan meninggalnya cucu Nabi Muhammad SWA. yaitu Imam Husain ra lain hal dengan orang jawa dimana yang paling sering mengadakan suroan adalah Jogja, Keraton Solo dan Kota Reog dan ini berkaitan dengan Jamasan dll.

Pendakian di malam 1 muharram memang terbilang istimewa di Gunung Lawu , pemilik warung tertinggi di Indonesia yaitu Mbok Yem dimalam satu suro juga mengistimewakan dengan membuat berbagai menu makanan dan ini khusus untuk para pendaki yang ingin suroan di puncak gunung lawu.

Pada tahun ini pendakian sepertinya akan kecewa pasalnya gunung lawu mengalami musibah yaitu kebakaran dari bulan Agustus kemarin pada tanggal 17 kemudian padam di tanggal 21 belum genap seminggu terbakar lagi di tgl 22 dan padam di tanggal 27 namun terjadi kebakran lagi di awal bulan september pada tanggal 5 kemarin dan sampai saat ini masih tahap pemadaman di area KPH , Jogorogo, Ngawi.

Dengan kondisi yang dialami lawu sekarang kemungkinan besar lawu tidak bisa didaki pada malam 1 Muharaam nanti. Sekedar untuk diketahui bila para pendaki ingin melakukan pendakian gunung lawu memang banyak jalur pendakian yang dapat di pilih semisal jalur pendakian gunung lawu via Cemoro Sewu, Cemoro Kandang dan Candi Cetho untuk jalur Jogorogo belum diresmikan ia hanya warga lokal yang mendaki dari sini.

Baca Juga: 5 Jalur Pendakian Gunung Rinjani, Yang Siap Kamu Coba

Gunung lawu memang menjadi istimewa dikala suro datang karena gunung ini memiliki sejarah yang panjang yang berkaitan dengan kerajaan masa lampau seperti Majapahit yang mana raja Brawijaya ke V hilang di puncak gunung lawu karena semedi, dimana sang raja membawa dua abdinya untuk menemani semedi di puncak gunung lawu yang sampai saat ini berkaitan dengan jalak lawu, menurut cerita jalak lawu ini adalah jelmaan dari Wangsa Manggala abdi sang Raja Brawijaya x.

Masih banyak cerita mistis di Gunung Lawu dan yang paling jelas adanya sejarah masa lampau yaitu bertenggernya Candi Cetho, Sukuh dll di lereng gunung lawu. Sekiranya perihal fakta dan sejarah lawu kurang lebih begitu yang berkaitan dengan malam 1 Muharaam yang dijadikan warga sekitar untuk suroan di gunung lawu melakukan segala tradisi turun temurun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *