Pembangunan Kereta Gantung Gunung Rinjani Ditargetkan Rampung Tahun 2021

oleh
oleh
Foto: Zhangjiajie

Investor akan segera merealisasikan pembangunan kereta gantung sepanjang 10 kilometer (km) di Desa Air Berik Kecamatan Batukliang Utara Lombok Tengah (Loteng). Pembangunan kereta gantung di sekitar kawasan Gunung Rinjani ini ditargetkan tuntas dibangun menjelang MotoGP 2021 mendatang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Ir. Madani Mukarom, B.Sc.F, M. Si mengatakan rencana pembangunan kereta gantung ini sudah mendapat persetujuan dari Kementerian LHK. Madani mengatakan pembangunan kereta gantung ini tidak berada di zona inti Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Madani menegaskan kawasan Pelawangan, Danau Segara Anak dan Puncak Rinjani merupakan zona inti TNGR.

Berdasarkan UU dan peraturan yang berlaku bahwa pada zona inti tersebut dilarang dan haram hukumnya membangun sarana dan prasarana apapun. Sehingga hal ini yang harus dipahami dulu oleh semua orang. “Dengan demikian pembangunan kereta gantung ini lokasinya tidak berada pada kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. (Lokasinya) yaitu berada di blok pemanfaatan jasa wisata pada Kawasan Tahura dan hutan lindung,” kata Madani dikonfirmasi Suara NTB, Minggu, 19 Januari 2020.

Baca Juga: Danau Segara Anak, Yang Bikin Susah Move On -Indahnya Kebangetan!

Madani mengatakan startnya mulai dari Karang Sidemen Kecamatan Batukliang Utara Loteng menuju kawasan hutan lindung di bagian atasnya. Kereta gantung yang dibangun sepanjang kurang lebih 10 km. Ia menjelaskan kereta gantung ini jika dianalogikan sama dengan jalan raya penghubung dari Pesugulan ke Sembalun atau Sajang – Sembalun yang semuanya itu dibangun di kawasan hutan lindung. Dulu, proses pembangunan dan pelebaran jalan tersebut banyak kritikan dan tantangan, tetapi sekarang bisa dinikmati semua orang.
Madani juga menjelaskan teknis pembangunan kereta gantung ini seluruh sarana dan prasarananya diangkut menggunakan helikopter. Dan kemudian sistem bersambung dari tiang satu ke tiang berikutnya. Sehingga meminimalisir pembukaan kawasan hutan. “Proses menuju pembangunan, akan dilakukan berbagai kajian teknis lingkungan dan FGD (focus group discussion) dengan para pihak,” jelasnya.

Berdasarkan hasil survei awal tim Dinas LHK dan Pemkab Loteng, diketahui bahwa dari tempat pemberhentian kereta gantung menuju bibir Danau Segara Anak atau Pelawangan Barat kondisi kemiringannya cukup landai, dan dapat ditempuh dengan jalan kaki 3-4 jam. Sehingga jalur ini cocok untuk para orang tua atau lansia. Sehingga keberadaan kereta gantung ini dapat membantu para orang tua atau lansia yang ingin menikmati Dana Segara Anak.

Madani menjelaskan rute perjalanan dari pemberhentian kereta gantung menuju puncak Rinjani lebih jauh dibandingkan dengan rute yang biasa dilalui para pendaki selama ini. Rute pemberhentian kereta gantung tersebut adalah Pelawangan Barat – Pelawangan Senaru – Danau Segara Anak – Pelawangan Sembalun – Puncak Rinjani. Atau hampir sama dengan rute Aik Berik Loteng. “Lamanya pendakian tersebut justeru menjadi tantangan bagi para pendaki militan. Peminat pengguna kereta gantung ini dominan kalangan menengah-eksekutif. Pastinya mereka penasaran turun ingin melihat lebih jelas Danau Segara Anak,” katanya.

Sehingga mereka perlu jalan kaki selama kurang lebih 3-4 jam dari lokasi pemberhentian lokasi kereta gantung menuju Pelawangan Barat dengan membawa 1-2 porter untuk memapahnya. Berbeda dengan pendaki yang biasa selama ini memanfaatkan satu porter untuk 2 – 4 orang turis atau pendaki. Sehingga keberadaan kereta gantung ini, kata Madani Justru akan menambah lapangan pekerjaan bagi porter. Madani menambahkan keberadaan kereta gantung ini justru akan menambah peluang lapangan kerja bagi porter di sana.

‘’Ini menjadi peluang lebih banyak menyerap kerja para porter. Belum lagi dengan para pedagang di tempat pemberangkatan,’’ katanya. Madani menambahkan pembangunan kereta gantung tidak akan merusak hutan atau ekosistem yang ada. Karena tinggi kereta gantung tersebut sekitar 60 meter. Sementara, tinggi pohon yang ada di hutan yang dilalui antara 20- 30 meter. Sekarang, diharapkan pembuatan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dan perizinan lainnya dapat bisa tuntas tiga bulan. Sehingga dapat dikerjar target tuntas sebelum pelaksanaan MotoGP 2021 mendatang. ‘’Sehingga bersamaan dengan MotoGP, ada destinasi baru yang orang lihat juga. Kalau MotoGP dan Formula 1 satu tahun sekali. Kalau ini setiap hari,’’ katanya.

Sumber: suaraNTB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.