Berapa Lama Sampah Terurai? Pendaki Wajib Baca !

oleh
oleh
Sampah di Gunung Semeru , Ranu Kumbolo ( Dok.Trasbag )

Gunung.id, – Dunia pendakian khususnya di Indonesia raya memang mengalami peningkatan yang cukup fantastis mungkin karena pengaruh film pendakian, pengaruh sosial media atau memang sudah tertanam pada diri penggemar dunia aktivitas luar ruang sehingga mendaki menjadi hoby yang sudah mendarah daging, semua itu sah adanya kalo seorang pendaki sudah mengenal SOP sebuah lembaga dalam hal ini taman nasional, tidak hanya itu saja seorang pendaki juga dituntut untuk mengetahui dasar-dasar mendaki gunung sehingga dalam emplementasinya berjalan dengan baik saat mendaki gunung.

Dari perkembangan dunia pendakian di Indonesia memang tidak lepas dari pengaruh yang disebutkan diatas benar atau tidak ia? kalo tidak benar dibenarkan saja tapi lihat postingan rata-rata menjuru kesitu apalagi sosial media sharing vidio dan gambar 😀 kan pada extensinya lebih ke situ 😀 namun semua itu wajar adanya namanya juga mansuia akan tetapi ia tahu bagaimana etika mendaki itu utama. Dibalik perkembangan dunia pariwisata khususnya minat wisata alam lebih spesifik pendakian memunculkan kemelut yang sungguh ironis yaitu sampah.

Tren pendakian gunung memang memberi dampak yang tidak baik terutama limbah dimana data menunjukan di tahun 2015 sekitar 2,5 ton sampah yang ada di beberapa gunung yang diangkut oleh sebuah komunitas bersih gunung yaitu Trasbag, sampah plastik yang paling banyak ditemukan serta botol plastik, disamping dampak tidak bagus dari trend mendaki gunung disatu sisi antusias orang-orang khususnya anak muda dalam berwisata mendaki gunung memberikan sisi positif antara lain memberikan lapangan pekerjaan bagi warga di kaki Gunung Indonesia yaitu bisa membuka warung, memberikan jasa (Guide, menginap dll) dan juga memberikan devisa bagi Negara dari hasil retribusi mengurus Simaksi.

Perlu sobat Gunung tahu bahwasanya untuk sampah sendiri yang dibuang oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab itu membutuhkan waktu yang tidak cepat untuk proses penguraian, bisa dilihat tabel dibawah ini:

No Jenis Sampah Masa Terurai
1 Styrofoam Tidak Dapat terurai
2 Alumuniun 80 -100 tahun
3 Kaleng Timah 200 -400 tahun
4 Plastik Kertas(Botol Plastik, Tuppurware,dll) 50-80 tahun
5 Baju/Kaos Kaki Nilon 30-40 tahun
6 Sepatu Kulit 25-43 tahun
7 Kantong Plastik 10-20 tahun
8 Filter Rokok 10 -12 Tahun
9 Kulit Jeruk 6 Bulan
10 Kaint Katun 1,5 Bulan
11 Kertas 2,5 bulan

Memang tren mendaki gunung memberikan dampak yang negatif dan positif alangkah baiknya dari diri kita (individual) mari sadar diri akan dampak buruknya sampah yang kau tinggalkan di gunung atau hal lain misalnya merusak ekosistem karena gunung adalah penumpang hidup manusia, tanpa gunung serta pepohonan yang menyelimuti kawasan gunung niscaya air bersih tak bisa kau nikmati.

Motivasi mendaki gunung memang kuat bagi para pemuda khususnya mungkin karena pengaruh teman, media sosial atau mau menunjukkan eksistensinya kemudian mengeshare ke berbagai jejaring sosial di jagad maya. Dahulu kala mendaki memang lekat dengan user pecinta alam pasalnya jika tidak suka banget jarang orang yang mendaki gunung kala itu maka dahulu bila kamu pernah naik gunung mungkin hanya bertemu dengan orang-orang itu saja ayoo benar atau tidak ngaku 😀 akan tetapi zaman now memang beda semua orang bisa naik gunung alhasil menimbulkan polemik yang tidak sedikit dari masalah sampah, hilang, hingga meninggalnya seseorang di gunung.

Dibalik semua itu hanya satu yang tidak boleh membedakan antara pendaki masa dulu dan pendaki zaman now yaitu jangan kau rusak gunung kamu harus sadar akan keseimbangan alam ini dengan cara tidak meninggalkan sampah yang kau bawa serta tidak merusak ekosistem gunung yang kau daki, dengan penerapan seperti ini semoga gunung Indonesia akan tetap lestari hingga bisa dinikmati sampai jutaan tahun mendatang oleh keturunan selanjutnya.

Perlu sobat Gunung tahu bahwasanya hutan di Indonesia terus mengalami penurunan dimana data KLHK menunjukkan ditahun 2017 luas hutan kita mencapai 125.922.474 hektare dan data di tahun 2015 128jt Ha. Dari jumlah ratusan juta hektar itu dibagi menjadi beberapa kelompok dari hutan produksi , Hutan Konservasi dan Hutan Lindung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.