Tsunami Banten dan Lampung Kaitanya Dengan Erupsi Gunung Anak Krakatau

oleh
Gunung anak krakatau

Tsunami di Selat Sunda yang menerjang pesisir pantai Banten dan Lampung, pada Sabtu (23/12/2018) pukul 21:33 WIB diawali dengan surutnya air laut.

Badan Geologi mendeteksi pada hari Sabtu (22/12/2018) pukul 21.03 WIB Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi kembali dan menyebabkan peralatan seismograf setempat rusak.

Baca Juga: Sejarah Meletusnya Gunung Krakatau Yang Menggemparkan Dunia

Loading...

Saat itu, seismik Stasiun Sertung merekam adanya getaran tremor terus menerus, namun tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigaikan.

Kemungkinan, material sedimen di sekitar Anak Gunung Krakatau di bawah laut longsor sehingga memicu tsunami.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan secara resmi bahwa tsunami telah terjadi dan menerjang beberapa wilayah pantai di Selat Sunda.

Tsunami terjadi Sabtu (22/12/2018) malam sekitar pukul 21.33 WIB, menerjang pantai di Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan.

Perlu diketahui, erupsi Krakatau kini terjadi hampir setiap hari sejak 29 juni 2018.

Hal itu mengingatkan kita pada letusan dahsyat gunung Krakatau yang terjadi pada tahun 1883.

Saat itu, letusan dahsyat Krakatau menimbulkan awan panas setinggi 70 km dan tsunami setinggi 40 meter dan menewaskan sekitar 36.000 orang.

Baca Juga:Misteri Gunung Tanggamus, Tikungan Mbah Jenggot

__________________________________________________________
Tsunami yang terjadi di Banten (Padeglang & Serang) dan Lampung (Lampung Selatan & Tanggamus) tercatat 222 Orang meninggal dunia, 843 orang luka-luka dan 28 orang hilang (BNPB- 23-12-18)